Siapakah diantara teman-teman yang hidupnya benar-benar bebas dari masalah yang menghampiri? Ups… saya percaya, bahwa ketika Anda membaca jurnal ini anda sedang memikirkan masalah yang sedang anda hadapi atau sedang Anda coba untuk menyelesaikannya. Hehehe… boleh dong saya meminjam gaya para trainer hypnotherapy…
Sebenarnya ketika bangun tidur di pagi hari, kita sudah menghadapi masalah pertama kita. Misalnya ketika sebenarnya kita masih ingin tidur, kita harus bangun untuk menjalankan shalat subuh. Ketika kita mengharapkan kenaikan pendapatan sebesar 10% dari bisnis sampingan kita, ternyata malah kerugian yang kita dapatkan Ketika kita ingin sampai di kantor dalam waktu 1 jam perjalanan, tetapi ternyata perjalanan ke kantor memakan waktu 2 jam karena bis yang kita tumpangi terlalu lama berjalannya, dan sebagainya. Nah, ternyata memang dalam kehidupan kita selalu diliputi masalah demi masalah kan?
Tapi sebentar… sebentaaar…. Masalah itu sebenarnya apa sih?
Menurut para ahli perumus masalah, masalah didefinisikan sebagai kesenjangan (gap) antara situasi sekarang dengan target yang diinginkan. Nah, jika kita membicarakan gap atau kesenjangan, maka sebetulnya ada sebuah kriteria yang kita tetapkan untuk menilai sesuatu hal yang kita hadapai ini menjadi masalah atau bukan. Biasanya, kriteria ini mempunyai suatu ukuran. Ukuran ini dapat dinyatakan secara kuantitatif dan kualitatif. Kriteria kualitatif ini bersifat subjektif, karena biasanya berhubungan dengan perasaan. Biasanya kalau sesuatu hal menyebabkan perasaan kita terganggu, misalnya sedih, kecewa, marah dan berbagai perasaan negatif lainnya. Sementara kriteria kuantitatif lebih mudah didefnisikan karena dinyatakan dengan angka, seperti kriteria biaya, waktu, panjang, ukuran, dll.
Untuk menyelesaikan masalah, kita memerlukan upaya penyelesaian atau problem-solving, dimana kita akan melakukan serangkaian aktifitas identifikasi dan seleksi solusi dari masalah yang dihadapi. Secara umum, pemecahan masalah yang logis akan mengikuti rangkaian tahapan sebagai berikut:
1. Identifikasi / perumusan masalah
2. Analisis Masalah
3. Pemecahan Masalah
4. Evaluasi
Weittsss… serasa sedang ikut kuliah kah? Hihihihi… maap…
Okeylah kalau begitu, saya akan memakai sebuah contoh saja supaya tidak membosankan.
Seorang mahasiswa bernama Tukimin, atau biasa dipanggil Uki (halahh, penting nggak siih???). Di rumah, Ibunya sering marah-marah karena semester kemarin Indeks Prestasi Semester (IPS)nya buruk sekali. IPS Nasakom alias Nasib Satu Koma, padahal ia menargetkan IPS pada semester lalu mencapai 3,00. Uki menyadari, ia sedang menghadapi masalah ketidaksesuaian antara target IPS yang diinginkan dengan yang dicapainya. Masalah besar untuk seorang mahasiswa yang ingin lulus tepat waktu dan mempunyai Ibu yang sedikit galak.
Uki mencoba menganalisis masalahnya. Ia menyadari bahwa selama ini ia memang cenderung tidak fokus dalam belajar, sering terlambat mengumpulkan tugas sehingga nilai tugas-tugasnya mendapat diskon dari dosen, dan terlalu sibuk dengan urusan organisasi kemahasiswaan di kampus. Ternyata tiga hal itulah yang menjadi penyebab IPSnya menjadi IPS Nasakom. Dalam analisis masalah, Uki menemukan berbagai penyebab, dan mencoba mencari alternatif solusi yang paling mungkin. Uki kemudian memetakan penyebab masalahnya itu dan berbagai alternatif solusi untuk menghilangkan penyebab itu.
Uki mencari penyebab ia tidak fokus belajar selama ini dan menemukan bahwa ia sebenarnya malas untuk belajar sendiri dan lebih menyukai belajar bersama temannya. Selain itu ia tak punya buku maupun catatan kuliah, dan sering merasa terlalu lelah untuk belajar karena kegiatannya yang sangat banyak. Belakangan, ia menjadi terlalu sibuk dengan kegiatan ekstra karena banyak terlibat dalam kegiatan ormawa dan menjadi ketua panitia untuk beberapa penyelenggaraan kegiatan. Kegiatan ini sangat menyita waktu dan energinya sehingga ia kelelahan. Sementara Uki sering terlambat mengumpulkan tugas karena kelalaiannya tidak ingat dan tidak paham mengenai tugas yang diberikan dosen padanya.
Uki melihat adanya hubungan antara kesibukannya di organisasi dan prestasi belajarnya, dan hal ini yang menyebabkan ia menjadi tidak fokus dalam belajar dan lalai akan tugasnya. Uki merumuskan penyelesaian masalah yang mungkin berdasarkan urutan prioritas, yaitu:
1. Mengurangi dan membatasi kegiatan organisasi
2. Mencari teman untuk belajar bersama
3. Mengusahakan mempunyai buku, dengan cara membeli, meminjam, atau memfotokopi
4. Mulai membuat catatan kuliah
Kemudian Uki mulai menerapkan solusi pemecahan masalahnya itu pada semester ini dan menargetkan IPS nya mencapai angka 3,00. Disini, Uki mempunyai batas waktu penyelesaian masalahnya yaitu selama 1 semester. Batas waktu dalam penyelesaian ini harus ditetapkan, agar kita mudah dalam melakukan evaluasi. Katakanlah, seandainya pada akhir semester ini Uki meraih IPS 3,00 berarti langkah pemecahan masalahnya sudah tepat, dan siap untuk menetapkan target yang lebih tinggi pada semester selanjutnya. Namun seandainya IPS Uki meleset dari target dan hanya mencapai 2,80 maka Uki harus mengevaluasi dimanakah letak kekurangannya, dan apakah yang salah dengan upayanya. Dengan demikian upaya perbaikan dapat dilakukan secara bersinambung untuk hasil yang lebih baik.
Problem solving ini merupakan salah satu soft-skill yang diperlukan dalam semua segi kehidupan kita. Untuk hidup yang lebih mudah dan sederhana, kita memang harus mempunyai skill dalam hal ini. Mengingat kehidupan kita selalu saja bersinggungan dengan masalah bukan?
*dari berbagai sumber, disampaikan dalam satu sesi pelatihan problem solving
Praktikan PIM I
Selamat melaksanakan UAS "Praktikum Perancangan Industri Manufaktur I" semoga mendapatkan hasil yang memuaskan.
Tuesday, June 15, 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)
